Kekayaan …

KEKAYAAN MANUSIA YANG TERBESAR

SEORANG sahabat yang mulai kelelahan hidup, pagi bangun, berangkat ke kantor, pulang malam dalam kelelahan, serta amat jarang bisa merasakan sinar matahari di kulit, kemudian bertanya: untuk apa hidup ini? Ada juga orang tua yang sudah benar-benar lelah mengungsi (kecil mengungsi di rumah orang tua, dewasa mengungsi ke lembaga pernikahan, tua mengungsi di rumah sakit), dan juga bertanya serupa.


Objek sekaligus subjek yang dikejar dalam hidup memang bermacam-macam. Ada yang mencari kekayaan, ada yang mengejar keterkenalan, ada yang lapar dengan kekaguman orang, ada yang demikian seriusnya di jalan-jalan spiritual sampai mengorbankan hampir segala-galanya. Dan tentu saja sudah menjadi hak masing-masing orang untuk memilih jalur bagi diri sendiri.

Namun yang paling banyak mendapat pengikut adalah mereka yang berjalan atau berlari memburu kekayaan (luar maupun dalam). Pedagang, pengusaha, pegawai, pejabat, petani, tentara, supir, penekun spiritual sampai dengan tukang sapu, tidak sedikit kepalanya yang diisi oleh gambar-gambar hidup agar cepat kaya. Sebagian bahkan mengambil jalan-jalan pintas.

Yang jelas, pilihan menjadi kaya tentu sebuah pilihan yang bisa dimengerti. Terutama dengan kaya materi manusia bisa melakukan lebih banyak hal. Dengan kekayaan di dalam, manusia bisa berjalan lebih jauh di jalan-jalan kehidupan. Dan soal jalur mana untuk menjadi kaya yang akan ditempuh, pilihan yang tersedia memang amat melimpah. Dari jualan asuransi, ikut MLM, memimpin perusahaan, jadi pengusaha, sampai dengan jadi pejabat tinggi. Namun, salah seorang orang bijak dari timur pernah menganjurkan sebuah jalan: contentment is the greatest wealth. Tentu agak unik kedengarannya. Terutama di zaman yang serba penuh dengan hiruk pikuk pencarian keluar. Menyebut cukup sebagai kekayaan manusia terbesar, tentu bisa dikira dan dituduh miring.

Ada yang mengira menganjurkan kemalasan, ada yang menuduh sebagai antikemajuan. Dan tentu saja tidak dilarang untuk berpikir seperti ini. Cuma, bagi setiap pejalan kehidupan yang sudah mencoba serta berjalan jauh di jalur-jalur “cukup”, segera akan mengerti, memang merasa cukuplah kekayaan manusia yang terbesar. Bukan merasa cukup kemudian berhenti berusaha dan bekerja.

Sekali lagi bukan. Terutama karena hidup serta alam memang berputar melalui hukum-hukum kerja. Sekaligus memberikan pilihan mengagumkan, bekerja dan lakukan tugas masing-masing sebaik-baiknya, namun terimalah hasilnya dengan rasa cukup.

Dan ada yang berbeda jauh di dalam sini, ketika tugas dan kerja keras sudah dipeluk dengan perasaan cukup. Tugasnya berjalan, kerja kerasnya juga berputar. Namun rasa syukurnya mengagumkan. Sekaligus membukakan pintu bagi perjalanan kehidupan yang penuh kemesraan. Tidak saja dengan diri sendiri, keluarga, tetangga serta teman. Dengan semua perwujudan Tuhan manusia mudah terhubung ketika rasa syukurnya mengagumkan. Tidak saja dalam keramaian manusia menemukan banyak kawan, di hutan yang paling sepi sekalipun ia menemukan banyak teman.

Dalam terang cahaya pemahaman seperti ini, rupanya merasa cukup jauh dari lebih sekadar memaksa diri agar damai. Awalnya, apapun memang diikuti keterpaksaan. Namun begitu merasa cukup menjadi sebuah kebiasaan, manusia seperti terlempar dengan nyaman ke sarang laba-laba kehidupan. Di mana semuanya (manusia, binatang, tetumbuhan, batu, air, awan, langit, matahari, dll) serba terhubung, sekaligus menyediakan rasa aman nyaman di sebuah titik pusat.

Orang tua mengajarkan hidup berputar seperti roda. Dan setiap pencarian kekayaan ke luar yang tidak mengenal rasa cukup, mudah sekali membuat manusia terguncang menakutkan di pinggir roda. Namun di titik pusat, tidak ada putaran. Yang ada hanya rasa cukup yang bersahabatkan hening, jernih sekaligus kaya. Bagi yang belum pernah mencoba, apa lagi diselimuti ketakutan, keraguan dan iri hati, hidup di titik pusat berbekalkan rasa cukup memang tidak terbayangkan. Hanya keberanian untuk melatih dirilah yang bisa membukakan pintu dalam hal ini.

Hidup yang ideal memang kaya di luar sekaligus di dalam. Dan ini bisa ditemukan orang-orang yang mampu mengkombinasikan antara kerja keras di satu sisi, serta rasa cukup di lain sisi. Bila orang-orang seperti ini berjalan lebih jauh lagi di jalan yang sama, akan datang suatu waktu dimana amat bahagia dengan hidup yang bodoh di luar, namun pintar mengagumkan di dalam. Biasa tampak luarnya, namun luar biasa pengalaman di dalamnya. Ini bisa terjadi, karena rasa cukup membawa manusia pelan-pelan mengurangi ketergantungan akan penilaian orang lain. Jangankan dinilai baik dan pintar, dinilai buruk sekaligus bodoh pun tidak ada masalah.

Salah satu manusia yang sudah sampai di sini bernama Susana Tamaro. Dalam novel indahnya berjudul ‘pergi ke mana hati membawamu’ ia kurang lebih menulis: kata-kata ibarat sapu. Ketika dipakai menyapu, lantai lebih bersih namun debu terbang ke mana-mana. Dan hening ibarat lap pel. Lantai bersih tanpa membuat debu terbang. Dengan kata lain, pujian, makian, kekaguman, kebencian dan kata-kata manusia sejenis, hanya menjernihkan sebagian, sekaligus memperkotor di bagian lain (seperti sapu). Sedangkan hening di dalam bersama rasa cukup seperti lap pel, bersih, jernih tanpa menimbulkan dampak negatif.

Manusia lain yang juga sampai di sini bernama Chogyum Trungpa, di salah satu karyanya yang mengagumkan (Shambala, The sacred path of the warrior), ia menulis: this basic wisdom of Shambala is that in this world, as it is, we can find a good and meaningful human life that will also serve others. That is our richness. Itulah kekayaan yang mengagumkan, bahwa dalam hidup yang sebagaimana adanya (bukan yang seharusnya) kita bisa menemukan kehidupan berguna sekaligus pelayanan bermakna buat pihak lain.

TERIMA KASIH DARI HATI

Semoga senantiasa sehat dalam lindungan ALLAH dan dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik dan sukses.

Dengan ini saya menghaturkan rasa terima kasih yang teramat dalam atas bantuan dan donasi yang anda berikan untuk Jupiter sekeluarga, terutama untuk biaya pengobatan Ibunya yang menurut hasil diagnosa dokter dan uji laboratorium teranamnesa kanker hati.

Beberapa waktu yang lalu, Ibu yang mulia itu kritis dan harus menjalankan perawatan yang sangat intensif di rumah sakit, karena memang cara terbaik untuk penyakit ini adalah beristirahat yang cukup dan asupan gizi yang terpantau.

Berkat doa anda, semuanya berangsur membaik walau tidak seperti sedia kala.  namun memang ada bebeberapa hal yang selalu menjadi pertanyaan beliau selama sakit, dan ini akan menjadi catatan buat kita semua betapa ikhlasnya dia menjalani peran sebagai seorang Ibu dan sebagai seorang manusia.

Dia selalu bertanya, darimana Jupiter memperoleh uang untuk biaya pengobatan? bukankah hidup mereka yang sedemikian sulit tidak memungkinkan untuk memiliki uang sebanyak itu? karena memang jika dirunut kembali biaya yang sudah dikeluarkan mungkin sudah belasan juta.  Pertanyaan sang bunda seringkali terujar ketika memang tak lagi mampu menahan sakit yang selama ini memang ditahannya, agar tak terlihat oleh ketiga buah hati yang begitu dicintainya, anak-anak yang selama ini beliau besarkan dengan cucuran keringat dan tenaga yang tercurah tanpa kenal lelah siang dan malam, hanya untuk ketiga buah hati, agar tetap hidup dan tetap sekolah.  dan memang ketiga anak inilah yang membuat beliau bertahan hidup hingga kini.  Beliau telah bertransaski dengan pemilik kehidupan agar diberi waktu melihat ketiga anaknya ini tumbuh berilmu, mandiri dan bahagia.  Sebuah keinginan yang begitu sederhana, namun memilki tingkat kesyukuran yang teramat dalam dan tinggi, karena tak banyak manusia yang seperti ini hidup di bumi.

Suatu ketika saya sempatkan kesana menjenguk Sang Bunda yang hingga kini menggoreskan catatan begitu dalam sanubari saya. Ketika saya baru sampai di depan rumah, beliau berusaha berdiri menyambut walau pada akhirnya tetap terbaring.  Bertemu dan berjumpa keluarga ini bagi saya mungkin sebuah cerita yang menggoreskan kenangan yang teramat bernilai tentang sebuah keluarga yang diakhir zaman nanti, Insya ALLAH tetap menjadi keluarga.

Belum sempat bertanya tentang keadaannya, air mata mengalir membasahi pipinya, dimana tergambar betapa getir dan pahitnya hidup yang beliau lalui, membesarkan ketiga buah hati seorang diri.  Namun sorot matanya menggambarkan sebuah kekuatan hidup dan kebanggaan sebagai seorang Ibu.  Masih segar dalam ingatan saya ketika beliau mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang telah beliau terima.  sebuah ujaran yang begitu tulus terasa.

Pada beliau saya katakan, bahwa semua yang beliau terima berasal dari langit!  bukan dari saya dan pada Jupiter saya katakan bahwa dia tidak sendiri, begitu banyak manusia-manusia langit yang selalu ada dan membantunya, paling tidak melalui doa-doa dan zikir yang terujar ke langit.

Kalaupun nanti takdir berkata lain, maka sungguh beliau akan pergi dengan segala kebahagiaan dan kebanggaan.  Bahagia karena diakhir hidup beliau telah melalui sebuah proses perawatan dan diurus oleh perawat-perawat yang baik.  Jupiter pernah bilang, jika nanti smeua ini terjadi, sesungguhnya Ibu telah pergi selayaknya seorang Ratu, karena begitu banyak yang menyayangi beliau.

akhir-akhir ini waktu saya sungguh tersita banyak untuk pekerjaan dan hal-hal yang berkenaan dengan hidup yang akan saya jalani.  Saya akan mencari rizki di setiap lorong-lorong langit dan berusaha menjadi manusia yang berguna bagi siapa saja, mencari ilmu dan mengumandangkannya di setiap lorong yang saya lalui.

Biarlah air yang mengalir, awan yang berarak, gemerisik daun dan liuk pepohonan menjadi penunjuk jalan bagi kita menuju Tuhan.  Tak ada yang lebih membahagiakan kita kecuali bisa memberi arti dan makna bagi setiap orang, walaupun sedikit, karena hidup ini hanyalah sebagian demi sebagian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: